Monday, September 7, 2009

I M A N

I M A N


I) Macam-macam iman.


1) Historical faith (iman sejarah).

* Hanya merupakan pengertian intelektual tentang kebenaran, tetapi tidak ada tujuan moral / rohani (tidak ada tujuan supaya dekat pada Tuhan, dosa diampuni, masuk surga, hidup suci, dsb).

* Orang yang mempunyai iman jenis ini hanya menerima kebenaran tentang Kristus dengan cara yang sama seperti ia menerima fakta-fakta sejarah tentang Napoleon, Hitler, dsb.

* Orang yang mempunyai iman jenis ini tidak mempunyai hubungan pribadi dengan Kristus.

* Iman seperti ini bisa timbul dari tradisi, pendidikan, lingkungan / keluarga kristen.


2) Miraculous faith (iman mujijat).

* Merupakan kepercayaan / keyakinan bahwa Allah akan melakukan mujijat untuk dia / untuk kepentingannya / melalui dirinya (Mat 15:28 17:20).

* Iman seperti ini bukan iman yang menyelamatkan (saving faith). Iman seperti ini bisa disertai oleh saving faith seperti Mat 8:10-13, bisa juga tidak, seperti dalam Luk 17:11-19 (untuk yang 9 orang kusta) .


3) Temporary faith (iman sementara).

* Berbeda dengan historical faith, karena di sini emosi ikut dilibatkan (Mat 13:20-21 ‘dengan gembira’).

* Tujuan / motivasi orangnya adalah kesenangan / kenikmatan pribadi, bukan kemuliaan Allah.

* Kadang-kadang, atau bahkan seringkali, iman ini sukar dibedakan dari saving faith / iman yang menyelamatkan.

* Semua bagian Kitab Suci yang menunjukkan seolah-olah keselamatan bisa hilang (seperti Ibr 6:4-6) adalah temporary faith. Bandingkan dengan 1Yoh 2:18-19.


4) True saving faith (iman yang menyelamatkan yang benar).

* Harus didahului oleh regeneration (= kelahiran kembali).

Kitab Suci menggambarkan manusia sebagai mati rohani (Yoh 10:10 Ef 2:1) dan karena itu tidak mau dan tidak bisa memberi tanggapan terhadap Firman Tuhan / Injil (1Kor 2:14 Yoh 6:44,65). Jadi supaya manusia yang mati rohani itu bisa dan mau percaya, Roh Kudus harus melahirkan dia kembali. Kelahiran kembali merupakan pekerjaan Roh Kudus saja. Jadi di sini kita bisa melihat dengan jelas akan pentingnya doa dalam Pemberitaan Injil. Tanpa doa, Roh Kudus tidak akan bekerja, dan tanpa pekerjaan Roh Kudus, orang yang kita injili itu tidak akan bisa / mau percaya kepada Yesus.

* Merupakan aktivitas manusia.

Sekalipun iman juga ditimbulkan oleh pekerjaan Roh Kudus dan iman merupakan anugrah Allah (1Kor 12:3 Mat 16:15-17 Fil 1:29), tetapi Allah tidak beriman untuk kita. Kitalah yang beriman!


II) Elemen-elemen iman yang benar.

1) Pikiran.

a) Harus ada pengetahuan / pengertian yang benar tentang Injil / dasar-dasar kekristenan (Ro 10:13-14,17 Mat 13:23).

b) Harus percaya / setuju secara intelektual pada apa yang diketahui / dimengerti di atas.

2) Emosi / perasaan.

Tidak cukup kita hanya mengerti dan percaya secara intelektual saja. Perasaan juga terlibat.

Misalnya: sedih karena dosa (bandingkan dengan Petrus menangis setelah menyangkal Yesus), merasakan kasih Allah, merasa sukacita karena penebusan Kristus, merasa yakin akan keselamatan, dsb.

3) Kemauan / kehendak.

Sekalipun pikiran sudah mengerti dan percaya, perasaan ikut terlibat, tetapi kalau kita tak mau ikut Kristus, kita bukan orang kristen (bandingkan dengan pemuda kaya dalam Mat 19:21-22).

Dalam Luk 15:17-20, pertobatan anak bungsu mengandung 3 elemen tersebut di atas.


III) ‘TO BELIEVE’ dan ‘TO TRUST’.

‘To believe’ = percaya.

‘To trust’ = mempercayakan.

Tidak adanya ‘trust’ sebetulnya menunjukkan ‘unbelief’ / ‘ketidak-percayaan’.


Illustrasi: Seorang pemain akrobat di atas air terjun Niagara mengatakan bahwa ia bisa membawa seseorang di atas kereta dorong menyeberangi tambang yang melintasi air terjun. Lalu ia bertanya kepada penonton: ‘Percayakah kamu akan hal itu?’. Penonton serempak menjawab: ‘Percaya!’. Lalu ia berkata kepada salah satu dari mereka: ‘Kamu naik ke atas kereta ini’. Orang itu tersentak dan menolak. Ini menunjukkan bahwa ia tidak ‘trust’ / mempercayakan dirinya kepada si pemain akrobat, dan juga menunjukkan bahwa sebetulnya ia tidak percaya kata-kata si pemain akrobat itu.

Kita baru bisa disebut mempunyai iman yang sejati kalau kita bukan sekedar percaya, tetapi kalau kita mau mempercayakan hidup kita setelah kematian, dan juga segala dosa-dosa kita, kepada Kristus.


IV) Object of Faith (Obyek / dari iman).

Obyek dari iman yaitu Yesus Kristus sendiri.

Ada 3 perbedaan antara 3 hal di bawah ini:

1) Percaya tentang Kristus (misalnya: tentang kelahiranNya, kematianNya, kebangkitanNya dsb). Ini perlu tetapi tidak cukup!

2) Percaya pada ajaran Kristus (misalnya: tentang mengasihi Allah dan sesama manusia). Ini juga perlu tetapi tidak cukup!

3) Percaya kepada diri Kristus sendiri. Kalau ini ada barulah bisa timbul ‘trust’.


V) Iman dan keyakinan keselamatan.

1) Keyakinan keselamatan harus ada! (1Yoh 5:13 Ro 8:16).

2) Ada orang-orang yang berkata bahwa mereka percaya kalau Kristus sudah mati untuk semua dosa-dosa mereka, baik yang lalu maupun yang sekarang, maupun yang akan datang. Tetapi mereka takut kalau mati akan dihukum Tuhan / pergi ke neraka. Ini jelas adalah suatu kontradiksi. Ini menunjukkan bahwa kepercayaannya tidak sungguh-sungguh.

3) Ada banyak orang yang punya hobby ‘maju ke depan’ pada waktu ada ‘altar call’ (= pemanggilan untuk maju ke depan bagi yang mau percaya / menerima Yesus). Itu menunjukkan mereka tidak mempunyai keyakinan keselamatan dan jelas belum sungguh-sungguh percaya.


VI) Iman dalam ajaran Paulus dan Yakobus.

Paulus menghadapi Yudaisme / agama Yahudi yang mempercayai pentingnya ketaatan pada hukum Taurat supaya selamat (Kis 15:1-34). Karena itu ia menekankan bahwa kita bisa selamat hanya melalui iman (Ro 3:27-28 Gal 2:16,21 Gal 3:9,11 Ef 2:8,9 Fil 3:8b-9).


Catatan: karena itu hati-hati dengan orang yang menganggap bahwa kekristenan itu tidak terpisahkan dari Yudaisme, atau bahwa Yudaisme adalah landasan kekristenan. Ini ajaran sesat!

Sebaliknya, Yakobus menghadapi orang-orang yang mengaku dirinya Kristen tetapi tidak mengalami perubahan hidup. Karena itu ia menekankan pentingnya perbuatan sebagai bukti iman yang sejati (Yak 2:14-26).


-AMIN-


diedit dari "Penginjilan Pribadi"

pdt. Budi Asali M.Div

KRISTEN RAJAWALI

Kristen Rajawali

Orang-orang yang menantikan TUHAN, mendapat kekuatan baru
mereka seumpama rajawali yang naik terbang
dengan kekuatan sayapnya -
Yesaya 40 : 31

6 Hal Yang Patut Dipelajari Dari Rajawali

Rajawali adalah mahluk ciptaan Tuhan yang sangat indah. Alkitab menuliskan mengenai rajawali sebanyak 38 kali, jauh lebih banyak dibandingkan merpati atau jenis burung lainnya. Seekor rajawali dewasa memiliki tinggi badan sekitar 90 cm, dan bentangan sayap sepanjang 2 m. Ia membangun sarangnya di puncak-puncak gunung. Sarang itu sangat besar sehingga manusiapun dapat tidur di dalamnya. Sarang itu beratnya bisa mencapai 700 kg dan sangat nyaman.

Dengan berdasarkan Firman Tuhan, kita akan dapat melihat mengenai beberapa hal yang dapat kita pelajari dari burung rajawali ini, baik itu menyangkut keTuhanan maupun kehidupan kekristenan kita. Semoga pengetahuan singkat ini dapat menjadi berkat bagi kita semua. Tuhan Yesus memberkati.

PELAJARAN 1 :

Bayi Rajawali Harus Belajar Terbang Untuk Terbang

Di atas puncak gunung yang tinggi, telur rajawali menetas dan muncullah bayi rajawali. Seperti layaknya bayi yang lain, hanya ada dua hal yang sangat disukai oleh bayi rajawali ini untuk dilakukan, yaitu makan dan tidur. Bayi rajawali akan menghabiskan masa-masa pertamanya di dunia di dalam sarangnya yang nyaman. Setiap hari, induk rajawali mencarikan makanan untuk bayinya dan menyuapi mulut bayi yang sudah terbuka untuk menerima makanan. Dengan perut kenyang, bayi itu tidur kembali. Hal itu berlangsung berulang-ulang dalam hidupnya.

Siklus ini berjalan beberapa minggu, sampai pada suatu hari, induk rajawali ini terbang dan hanya berputar-putar di atas sarangnya memperhatikan anaknya yang ada di dalamnya. Kali ini tanpa makanan. Setelah berputar beberapa kali, induk rajawali akan terbang dengan kecepatan tinggi menuju sarangnya, ditabraknya sarang itu dan digoncang-goncangkannya. Kemudian ia merenggut anaknya dari sarang dan dibawanya terbang tinggi. Kemudian, secara tiba-tiba, ia menjatuhkan bayi rajawali dari ketinggian. Bayi ini berusaha terbang, tapi gagal. Beberapa saat jatuh melayang ke bawah mendekati batu-batu karang, induk rajawali ini dengan cepat meraih anaknya kembali dan dibawa terbang tinggi. Setelah itu dilepaskannya pegangan itu dan anaknya jatuh lagi. Tapi sebelum anaknya menyentuh daratan, ia mengangkatnya kembali. Hal ini dilakukan berulang-ulang, setiap hari. Hingga hanya dalam waktu satu minggu anaknya sudah banyak belajar, dan mulai memperhatikan bagaimana induknya terbang. Dalam jangka waktu itu, sayap anak rajawali sudah kuat dan ia pun mulai bisa terbang.

Saudaraku, banyak orang Kristen seperti bayi rajawali ini. Terlalu nyaman di dalam sarangnya. Kita datang ke gereja seminggu sekali untuk mendapatkan makanan. Kita menunggu pelayan Tuhan untuk memberi mereka "makanan rohani" ke dalam mulutnya. Kemudian setelah ibadah selesai, kita pulang dan "tidur" lagi, tanpa melakukan Firman Tuhan dan hidup tidak berubah. Baru setelah beban-beban berat menindih selama 1 minggu, kita merasakan "lapar" dan butuh diisi makanan, kemudian kitapun pergi lagi ke gereja untuk didrop makanan lagi.

Hal ini berlangsung terus-menerus berulang-ulang tanpa ada pertumbuhan secara rohani dalam hidup kita. Sampai suatu saat, sesuatu pencobaan terjadi dalam hidup kita, sarang digoncangkan dengan keras, dan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kita mulai menyalahkan Tuhan, "Tuhan jahat! Tuhan tidak adil!..."

Tidak! Tuhan tidak jahat! Jika kita mengalami pencobaan dan goncangan berarti Bapa di surga sedang melatih kita untuk bisa lebih dewasa lagi, agar kita bisa siap untuk terbang. Akan sia-sia menjadi rajawali kalau dia tidak bisa terbang. Berarti akan sia-sia menjadi orang Kristen kalau dia tidak pernah dewasa dalam iman! Akan tetapi perhatikanlah hal ini: setiap pencobaan datang, Tuhan tidak pernah membiarkan anak-anakNya jatuh tergeletak, tapi seperti induk rajawali, pada saat kirits, ia menyambar anaknya untuk diangkat kembali. Beban berat boleh datang, tapi kemudian mulailah untuk berdoa. Mulailah membuka Alkitab dan membaca Firman Tuhan. Kemudian kita akan menyadari bahwa jawaban doa itu telah datang. Masa-masa sukar akan selalu ada di depan kita, tapi kita akan menemukan diri kita selalu penuh dengan pengharapan jika kita tetap berdiri pada kebenaran Firman Allah. Apa yang sedang terjadi? Ternyata kita sedang merentangkan sayap kita ! Kita sedang belajar terbang! Tuhan mengangkat dan mempermuliakan kita melalui pencobaan-pencobaan yang kita alami.

Jika induk rajawali melatih anaknya untuk mempergunakan sayapnya, Tuhan melatih kita untuk mempercayai FirmanNya dan mempergunakan iman kita.

PELAJARAN 2 :

Rajawali Diciptakan Untuk Tinggal Di Tempat Tinggi

Berbeda dengan jenis burung lainnya, rajawali diciptakan untuk terbang di tempat-tempat yang tinggi, jauh dari pandangan mata telanjang dan jauh dari jangkauan para pemburu.

Burung rajawali memiliki keunikan, jika ia berada di alam bebas akan menjadi burung yang paling bersih di antara burung lainnya, tapi jika dia berada di dalam _penjara_ dan terikat, ia akan menjadi burung yang paling kotor (hal ini dikarenakan rajawali mengkonsumsi makanan yang berbeda dengan burung lainnya).

Saudaraku, Tuhan menciptakan kita untuk selalu terbang dan berada di tempat yang tinggi, yaitu selalu berada dalam hadiratNya dan bebas dari kontrol dunia. Jika orang Kristen berada dalam ikatan-ikatan duniawi, ia akan menjadi orang yang terkotor dibandingkan dengan orang lain.

PELAJARAN 3 :

Rajawali Tidak Terbang Tapi Melayang

Rajawali tidak terbang seperti layaknya burung-burung yang lain, mereka terbang dengan mengepak-kepakkan sayapnya dengan kekuatan sendiri. Tapi yang dilakukan rajawali ialah melayang dengan anggun, membuka lebar-lebar kedua sayapnya dan menggunakan kekuatan angin untuk mendorong tubuhnya. Yang membuat rajawali sangat spesial adalah ia tahu betul waktu yang tepat untuk meluncur terbang. Ia berdiam di atas puncak gunung karang, membaca keadaan angin, dan pada saat yang dirasa tepat ia mengepakkan sayapnya untuk mendorong terbang, lalu membuka sayapnya lebar-lebar untuk kemudian melayang dengan menggunakan kekuatan angin itu.

Saudaraku, angin sering disebutkan dalam Alkitab sebagai penggambaran dari Roh Kudus. Kita dapat belajar untuk bekerja sama dengan Roh Kudus dan membiarkanNya mengangkat kita lebih tinggi lagi, semakin dekat dengan Tuhan Yesus. Seringkali kita 'terbang' dengan kekuatan kita sendiri, hasilnya kita menemui banyak kelelahan, kekecewaan dan kepahitan dalam hidup ini. Tapi belajar dari rajawali, kita mau untuk 'terbang' melintasi kehidupan ini dengan mengandalkan Roh Kudus.

Angin, juga berbicara mengenai kesulitan-kesulitan hidup. Badai sering menggambarkan adanya pergumulan dalam hidup ini. Bagi rajawali, badai adalah media yang tepat untuk belajar menguatkan sayapnya. Dia terbang menembus badai itu, melayang di dalamnya, melatih sayapnya untuk lebih kuat lagi. Orang "Kristen Rajawali" seharusnya mengucap syukur dalam menghadapi berbagai-bagai pencobaan.

Karena saat itulah saat yang tepat bagi kita untuk mempergunakan pencobaan sebagai media untuk menguatkan sayap-sayap iman kita.

PELAJARAN 4 :

Rajawali Memiliki Waktu Khusus Untuk Pembaharuan

Ketika rajawali berumur 60 tahun, ia memasuki periode pembaharuan. Seekor rajawali akan mencari tempat tinggi dan tersembunyi di puncak gunung. Ia berdiam di situ, membiarkan bulu-bulunya rontok satu demi satu. Rajawali ini mengalami keadaan yang menyakitkan dan sangat mengenaskan selama kira-kira 1 tahun. Ia menunggu dengan sabar selama proses ini berlangsung, dan setiap hari ia membiarkan sinar matahari menyinari tubuhnya untuk mempercepat proses penyembuhannya.

Melalui proses ini, bulu-bulu barupun tumbuh, dan rajawali menerima kekuatan yang baru sehingga ia mampu bertahan hidup hingga umur 120 tahun, seperti normalnya rajawali hidup.

Saudaraku, seperti rajawali, orang Kristen perlu memiliki waktu-waktu khusus untuk proses pembaharuan dalam hidup ini. Membiarkan hal-hal lama yang tidak berguna lagi 'rontok' dan menanti-nantikan dengan sabar pemulihan dari Tuhan. Pembaharuan adalah prinsip Ilahi, dimana Allah memotong segala sesuatu yang tidak menghasilkan buah dalam hidup kita ini agar kita mampu berbuah lebat.

Selama kita menantikan Dia, relakan proses pembaharuan itu berlangsung.

PELAJARAN 5 :

Rajawali Kadang-kadang Sakit Seperti Manusia

Ketika rajawali mengalami sakit di tubuhnya, ia terbang ke suatu tempat yang sangat disukainya, di mana ia dengan leluasa dapat menikmati sinar matahari. Karena sinar matahari memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan rajawali, dan juga merupakan obat yang paling mujarab baginya.

Saudaraku, ketika kita sakit, baik itu sakit secara fisik, ekonomi, rumah tangga, pekerjaan, pelayanan, atau sakit rohani kita, apakah kita juga mencari Allah yang memainkan peranan penting dalam hidup kita, yang juga merupakan sumber kesembuhan bagi segala macam 'penyakit'.

PELAJARAN 6 :

Setiap Burung Rajawali Pasti Mati

Ketika rajawali berada dalam keadaan mendekati waktu kematiannya, ia terbang ke tempat yang paling disukainya, di atas gunung, menutupi tubuhnya dengan kedua sayapnya, memandang ke arah terbitnya matahari, lalu mati.

Saudaraku, sudah selayaknya, semua orang Kristen mati dengan mata dan hati tetap tertuju pada Yesus sebagai sumber dari pengharapan dan jaminan di dalam kehidupan kekal.

JADILAH KRISTEN RAJAWALI

"Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan terlunta-terlunta jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." Yes 40:30-31

Friday, July 17, 2009

RAHASIA HIDUP YANG BERKELIMPAHAN

RAHASIA HIDUP YANG BERKELIMPAHAN
Yohanes 15 :1-8

Apabila kita sebut berbuah itu berarti suatu tanda, yakni untuk membedakan antara Ciptaan Allah dan Buatan tangan Manusia. Yang dibuat oleh tangan manusia tidak bisa berbuah, tetapi apa yang diciptakan oleh Allah itu bisa berbuah. Dengan kata lain, setiap yang Allah ciptakan itu hidup, sedang apa yang dibuat oleh manusia itu tidak hidup alias mati.

Kalau anda pergi ke pusat perbelanjaan misalnya, terutama di Boutique, kita bisa melihat ada boneka yang dipajang, kemudian diberi pakaian yang indah, dan kelihatannya cantik sekali. Namun ia hanya boneka, tidak mempunyai hidup. Demikian juga kalau kita melihat ada bunga-bunga plastic yang kita pernah beli, dan kita pajangkan di rumah kita; bunga itu tidak ada hidupnya, ia hanya imitasi.

Yesus berkata : “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah , dibersihkan-Nya supaya ia lebih banyak berbuah” Inilah perintah Tuhan Yesus kepada orang-orang percaya agar kita menjadi orang Kristen yang berbuah, bahkan berbuah lebat. Mengapa harus berbuah? Apa maksudnya! Perhatikan bahwa kita tidak memfokuskan hal-hal kelimpahan yang bersifat materi, namun kita akan memfokuskan yang bersifat rohani. Ada empat poin penting yang yang kita lihat bersama pada hari ini, sebagai jawaban atas Hidup yang berkelimpahan;


1. Buah merupakan Tanda Ada-nya Hidup

Yohanes 15 ini berbicara tentang pokok Anggur. Tuhan Yesus menyimpulkan bahwa “Akulah pokok Anggur itu, dan kamu adalah ranting-rantingnya harus berbuah banyak”. Yesus memakai pokok Anggur, suatu contoh yang sangat sederhana sekali, IA tidak mau meninggikan diri-Nya sendiri dengan mengambil pohon-pohonan lain sebagai contoh. Kalau pokok Anggur ini boleh disebut pohon, maka ia adalah pohon yang paling tidak berbentuk, sebab tumbuhnya bisa menjalar sesuai dengan selera yang menanamnya. Kalau Tuhan Yesus mengidentikkan diri-Nya dengan pokok Anggur yang rela dibentuk, maka kita semestinya sebagai orang-orang percaya juga harus rela dibentuk. Pokok Anggur itu akan berguna kalau ia berbuah. Selama pokok Anggur itu belum berbuah, ia hanya menjadi pajangan saja, tidak sesuai dengan tujuan kehidupannya.

Tatkala sebuah pohon berbuah, ini menandakan bahwa pohon itu masih hidup’ jadi buahnya merupakan tanda hidup. Dengan kata lain kalau kita sebagai manusia menganggap diri kita masih hidup, konsekwensinya adalah hidup kita itu harus berbuah. Masalahnya sekarang buah yang bagiamana? Yang pahit, yang manis, yang enak atau yang tidak enak, yang masih segar atau yang busuk. Alkitab mengatakan : “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yakobus 2:17) Dan Alkitab berkata dengan jelas kepada kita bahwa tubuh tanpa jiwa adalah mayat.

Iman itu sendiri Invisible (tidak kelihatan), sebab adanya di dalam; namun lengkapnya adalah iman harus disertai perbuatan, yakni tingkah laku kita yang terlihat di luar. Yohanes Pembaptis berkata : “Hasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan”(Lukas 3:8 ) . Coba kita bedakan antara hati pertobatan dan buah pertobatan, hati pertobatan hanya dilihat oleh Tuhan, sedangkan buah pertobatan dilihat oleh manusia. Jikalau hati anda beriman kepada Tuhan, namun buahnya tidak baik, maka kita bukan hanya tidak memuliakan Tuhan, tetapi juga memberi kesempatan kepada orang lain untuk mencemooh dan memfitnah orang-orang Kristen lainnya. Itu sebabnya mari kita insaf sebagai orang percaya; harus ada buah yang bermanfaat senantiasa disalurkan pada orang lain.


2. Buah merupakan Tanda Pertumbuhan

Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah dibersihkan-Nya supaya ia lebih banyak berbuah. Dalam terjemahan lain “dibersihkan” berarti “dipotong supaya lebih rapi”. Apa yang tidak diperlukan pada pohon itu dibuang, dan sisanya hanya yang perlu-perlu saja. Tujuan pemotongan ini semuanya supaya pokok Anggur itu bertumbuh, kalau tadinya ranting pokok anggur itu banyak maka dikurangi; supaya pokok anggur itu punya tenaga untuk menumbuhkan daun-daun lainnya, bahkan berbuah juga.

Seseorang yang hobby menanam pohon, tentu mempunyai pengalaman yang indah tentang menanam pohon tertentu. Biasanya dengan telaten ia menyirami dan menanti sampai pohon itu bertumbuh, kemudian ia akan memangkas daun-daun yang tidak diperlukan, yang dimakan ulat, yang busuk dan sebagainya; supaya dapat tumbuh lebih lebat lagi. Apabila pohon tersebut mengalami pertumbuhan , maka si penanam itu akan merasa terhibur sekali. Demikian juga kehidupan orang Kristen. Rasul Paulus mengatakan bahwa ia sendiri bagaikan ibu rohani yang terus bertahan untuk melahirkan anak rohani. Di sini diperlukan kesabaran dan penderitaan seperti seorang ibu yang melahirkan. Pertumbuhan juga tidak bisa berlangsung mendadak dalam satu hari, tetapi melalui proses yang ada, itu sebabnya diperlukan kesabaran untuk menanti dan menunggu; namun ada batasnya tidak terlalau lama.

Bila kita ingin menjadi orang Kristen yang bertumbuh, nyatakanlah Anugerah Tuhan yang kita terima kepada orang lain; salah satu cara yang penting adalah memberitakan Injil. Setiap orang yang mau melayani Tuhan harus belajar bergumul untuk bertumbuh, karena bertumbuh tidak bisa dibantu oleh orang lain. Harus ia sendiri yang bertumbuh. Saya kurang tahu jelas anda sudah berapa lama menjadi orang percaya, ada yang baru satu tahun, ada yang sudah lima tahun, ada yang sudah melebihi sepuluhan tahun, mungkin ada juga yang sudah diatas tiga puluh tahun. Permisi tanya? Selama menjadi orang percaya sampai saat ini, bagaimana kehidupan doa anda? Lalu ada satu hal lagi yang sangat penting, apakah anda secara rutin membaca Firman Tuhan? Kemudian apakah anda mentaati firman Tuhan? Tatkala firman Tuhan katakana Kasihilah orang lain, apakah anda melakukannya? Tatkala firman Tuhan katakan berilah tumpangan pada orang lain, apakah anda lakukan? Tatkala firman Tuhan mengatakan kasihilah musuhmu, apakah anda lakukan? Tatkala firman Tuhan mengatakan mari melayani Tuhan, apakah anda melakukannya? Tatkala firman Tuhan katakan, ayo bayar perpuluhan, sebab perpuluhan itu sesungguhnya bukan milikmu. Apakah kita sudah melakukannya? Yang pasti, kalau sebelum anda percaya pada Tuhan Yesus, dibandingkan anda sudah percaya kepada Tuhan Yesus tidak ada yang berubah, itu berarti anda sedang berada dalam kondisi stagnasi. Itulah yang disebut orang ’Kristen Bonsai’.

Saya tahu kita selalu mengalami hambatan dan kesulitan tatkala memasuki pertumbuhan rohani, tetapi jangan pernah berhenti untuk berusaha, itu sebabnya DPPM mencanangkan untuk membaca Alkitab selesai dalam setahun dengan membaca 4 pasal setiap hari, yang sudah dimulai dari 1 Jauari 2009. Karena hal ini akan mendorong kita untuk bertumbuh.


3. Buah merupakan Tanda Kematangan

Apabila sebuah pohon itu berbuah, maka buah tidak hanya menyatakan pohon itu hidup dan bertumbuh, tetapi juga menyatakan bahwa pohon itu sudah matang. Mengapa ada orang yang mengaku Kristen, sudah ’lahir baru’, sudah melayani juga puluhan tahun, sudah menjadi pengurus juga puluhan tahun, tetapi kehidupan rohaninya tidak matang? Kehidupan orang percaya yang demikianlah yang sering kali menjadi batu sandungan, sehingga orang-orang yang mestinya mau ke gereja, tetapi karena melihat sikap orang Kristen yang modelnya tidak karuan; sehingga membuat mereka mengurungkan niatnya ke gereja. Sebab, ke gereja dengan tidak ke gereja tidak ada bedanya, malah lebih gawat tingkah lakunya. Diberikan pelayanan tapi tidak bertanggung jawab, punya disiplin yang rendah, dan mungkin selalu membela diri kalau di nasehati. Dan sering kali mereka yang tidak matang itu selalu menjadi trouble maker dalam melayani Tuhan, ribut saja melulu, protes ini, protes itu; mungkin Tuhan memberikan talenta pada dia, tapi ’talenta protes dan ribut’.J

Sekarang timbul pertanyaan? Apa Tanda-tanda Kematangan itu?

Pertama : Orang yang matang adalah orang yang tidak lagi mementingkan diri sendiri. Kalau anda masih merasa kurang diperhatikan oleh orang lain, maka anda belum memiliki kematangan. Oleh sebab itu hari ini kita perlu belajar supaya kita ini rendah hati; mungkin kita harus melakukan hal yang belum pernah kita lakukan, yakni menyapa orang lain terlebih dahulu. Dalam traning Care Ministry dikatakan, sebenarnya kita itu bisa menjadi berkat hari hari ini; asal kita mau menyalurkan Anugerah yang kita terima buat orang lain. Salah satunya yaitu menyapa orang lain terlebih dahulu. Mari, sehabis kebaktian ini kita akan praktekkan, jangan biarkan orang lain menyapa kita terlebih dahulu, kita masing-masing berlomba menyapa orang lain terlebih dahulu. Tidak ada alasan kita tidak mengenal orangnya, justru kalau pas berpapasan pada yang tidak kita kenal, maka berkenalanlah. (ayo kamu bisa..!!)

Kedua : Masalah Bertanggung Jawab, atau Komitmen kita. Apa saja yang pernah kita janjikan pada orang lain, harus kita lakukan. Seorang anak kecil ia akan memperhatikan keagungan dan juga keburukan dari orangtuanya. Di gereja biasanya ada dua macam orang yang dinilai kurang bertanggung-jawab; yaitu orang yang tidak melakukan sesuatu apapun jika tidak memberikan keuntungan bagi dia. Yang `kedua adalah orang yang setiap kali megiakan setiap pekerjaan atau janji atau komitmen , tetapi tidak pernah melakukannya.

Tuhan Yesus pernah memberikan contoh tentang dua orang anak yang diperintahkan oleh ayahnya ke ladang. Anak yang satu menolak perintah ayahnya, sedangkan anak yang lain mengiyakan orang tuanya. Namun akhirnya yang menolak perintah ayahnya ia akhirnya pergi ke ladang, sedangkan yang mengiakan ayahnya, ia tidak pergi. Siapa yang lebih baik dari kedua orang ini? Jawabannya ad-alah... dua-duanya tidak baik, semestinya yang baik adalah bila megatakan ya dan laksanakan tugas itu. Permisi tanya: anda termasuk golongan mana?? Jika kita mau menjadi orang Kristen berbuah, kunci utamanya harus memiliki kematangan hidup, matang di dalam menyangkali diri dan bertanggung jawab.

4. Buah merupakan Tanda dari Jenis

Buah yang kita produksikan, menunjukkan sampai dimana derajat hidup kita. Pernahkah kita mempunyai kerinduan untuk lebih rajin mengerjakan sesuatu buat Tuhan? Kalau itu merupakan kerinduan kita, saya yakin kita akan menjalani hidup yang penuh suka-cita, baik di dalam keluarga, dalam kampus, dalam kantor atau juga di dalam gereja dan persekutuan, kalau selama ini kita selalu mengeluh, maka sekarang tidak lagi; sebab kita mau menjadi orang percaya yang jenis kualitasnya yang lebih baik. Setiap yang kita lakukan dengan terpaksa, tentu tidak ada suka-citanya, termasuk dalam pekerjan dan juga pelayanan di gereja atau persekutuan. Ibarat segelas air yang diisi sampai penuh, berkelimpahan dan mengalir ke tempat lain, ini yang alamiah……namun kalau yang terpaksa, ibarat segelas air yang mengalir, tetapi bukan karean airnya melimpah, tetapi karena gelasnya bocor. Beda bukan? Yang melimpah, maka gelas tetap akan penuh dengan air, tetapi gelas yang bocor; sampai pada waktunya akan mengalami kekeringan. Pada waktu itulah, yang tadinya penuh suka-cita; sekarang penuh keluhan dan omelan.

Orang yang menyimpan rasa benci di dalam hatinya, tidak mungkin tidak banyak mengutuk orang lain di dalam perkataannya, tetapi orang yang banyak mempunyai cinta kasih di dalam hatinya, maka dengan sungguh-sungguh ia akan mengeluarkan kelakuan dan perbuatan yang sejati. Tuhan selalu yang memberikan yang terbaik buat kita. Di dalam kitab Yeremia, firman Tuhan berkata bahwa anggur-anggur pilihan yang ditanam-Nya berubah menjadi anggur berbau busuk dan liar (Yeremia 2:21). Apakah hidup kita sesuai dengan firman Tuhan? Kita tidak pernah akan hidup sesuai dengan firman Tuhan selama kita tidak mengetahui firman Tuhan itu sendiri, dan untuk mengetahuinya kita perlu membacanya dan mempraktekkannya. AMIN

Pemuda dan Tantangannya

Pemuda dan Tantangannya

Hidup sebagai pemuda memang banyak tantangannya. Namun sebelum masuk kepada topik ini kita mesti memiliki konsep yang jelas dimanakah tempat kita dalam hidup ini. Jikalau kita tidak memiliki pemahaman yang jelas dimanakah tempat kita dalam hidup ini, kita dapat diibaratkan dengan daun yang tertiup oleh angin dan terhempas ke mana-mana. Tapi kalau kita sudah menyadari dimanakah tempat kita dalam hidup ini, kita akan lebih bisa berakar, kita lebih bisa teguh. Ada orang-orang yang sampai tua pun tidak menyadari dimanakah tempatnya dalam hidup ini, sehingga mereka terus menjadi orang yang terombang-ambing. Sedangkan ada juga orang-orang yang bahkan pada usia muda sudah mengetahui dengan jelas tempatnya dalam hidup ini. Kita bisa melihat meskipun mereka masih usia muda tetapi mereka memiliki kemantapan. Apa yang saya maksud dengan tempat ini. Istilah tempat bisa bermakna banyak, namun salah satunya yang saya kira penting adalah tempat mengacu pada apa karunia kita, apa jalur karier kita dalam hidup ini. Tidak bisa tidak jalur karier atau pekerjaan kita itu berpengaruh besar terhadap tujuan hidup ini. Kalau kita tidak mengetahui jelas apa itu yang bisa kita lakukan dalam hidup, apa itu jalur karier yang harus kita tempuh, maka kita sukar sekali menetapkan tujuan hidup kita. Memang secara kasar secara umum kita bisa berkata kita hidup untuk memuliakan Tuhan. Bukan lagi kita hidup untuk diri sendiri kita hidup sekarang untuk Tuhan. Namun secara kongkretnya apa itu yang harus kita lakukan hari lepas hari. Berbahagialah kita yang sudah jelas mengetahui jalur karier kita ini. Setidak-tidaknya jalur karier ini menempatkan kita di rel yang akan mengarah pada tujuan hidup kita itu pula. Tetapi selain profesi dan karier tentu ada masalah lain yaitu masalah menentukan pasangan hidup atau teman hidupnya. Ini termasuk bagian yang cukup sulit yang harus dihadapi oleh pemuda.

Pertama kita akan mencoba melihat dahulu tahapan sebelum masuk ke usia pemuda yakni usia remaja. Sebab apa yang terjadi di masa pemuda sebetulnya sudah mulai terjadi di masa remaja dan di masa remajalah kita meletakkan fondasinya. Menurut seseorang bernama Erik Erikson, pada masa remaja seseorang itu berkesempatan membangun jati dirinya, siapakah dia itu.

Kalau dia berhasil menemukan dan membangun jati dirinya dia menjadi seseorang yang mantap. Dia tahu siapa dia di tengah-tengah kerumunan teman-temannya. Dia tidak terhilang di lautan teman. Tapi sebaliknya juga dia memiliki konsep diri yang juga realistik, sehingga dia tidak menjadi seseorang yg menonjol dan besar sendirian di tengah-tengah kerumunan temannya. Dgn kata lain dia tahu dirinya dengan pas, kekurangannya, kelebihannya, kebisaannya, keterbatasannya, dan dia bisa merangkul keduanya dengan luwes. Kalau dia bisa menemukan ini semuanya dia akan memasuki usia dewasa dan membangun yang kita sebut keintiman. Sebaliknya kalau dia tidak menemukan dirinya dan dia bingung terus dengan siapa dirinya waktu memasuki usia dewasa bukannya keintiman yang dia bangun malah dia mulailah menarik diri, mengisolasi diri dari orang-orang yang sebetulnya mau dekat dengan dia. Dengan kata lain, kita hanya berani intim atau dekat dengan orang kalau kita memiliki kepercayaan diri yg cukup, kalau kita tidak memiliki kepercayaan diri yg cukup, kita takut dekat dengan orang. Kita takut nanti orang ini mengetahui siapa kita, nanti orang ini menolak mengetahui keterbatasan kita dan sebagainya. Ada orang yang mengisolasi dirinya secara blak-blakan, menyendiri, tidak mau bertemu dengan orang, dan sebagainya, teman-temannya pun tidak ada. Tapi ada sebagian orang yang mengisolasi dirinya secara kamuflase tidak terlihat yaitu dia menjadi orang yang sebetulnya sosial, banyak teman, bergaul, namun semua pertemanannya itu sangat dangkal. Dia menutup pintu sehingga teman-temannya tidak bisa masuk dan mengenal siapa dia. Apapun gaya atau caranya intinya adalah dia memisahkan diri dari lingkungannya sehingga tidak bisa menjalin keintiman. Faktor ini yang akan berpengaruh besar nantinya dalam hal kesiapan seseorang untuk berkeluarga. Sebab berkeluarga menuntut satu syarat yaitu kemampuan kita untuk membagi hidup, untuk dekat dengan orang dan membiarkan orang dekat dengan kita.

Biasanya anak-anak harus melewati tahapan-tahapan secara alamiah itu tdk bisa dikarbit. Apa yg terjadi di masa pemuda sebetulnya itu fondasinya sudah diletakkan di masa remaja, pembentukan jati dirinya itu. Tapi sesungguhnya juga sebelum masa remaja ada masa kanak-kanak dan di situpun masa kanak-kanak sebetulnya juga harus melewati tahapannya dengan baik. Karena kalau tidak akan mempengaruhi masa remajanya.

Ada yang masa anak-anaknya sudah diupayakan untuk diberikan suatu arahan yang baik, tetapi memang perjalanan hidup ini kadang-kadang sulit ditebak. Misalnya karena suatu masalah orang tuanya itu bangkrut, jatuh miskin. Anak ini yang tadinya gampang bergaul tiba-tiba dia menarik diri dari lingkungan temannya. Hal ini bisa terjadi, karena memang bagaimanapun pengaruh kejatuhan orang tuanya ada pada perkembangan jiwanya. Namun kalau anak ini sudah memiliki konsep diri yang sehat, mempunyai pergaulan yang baik dengan temannya seharusnya kejatuhan ini hanya bersifat sementara dia mungkin menarik diri sebulan, dua bulan namun teman-temannya tidak membiarkan, teman-temannya akan mencoba menghiburnya karena memang relasinya sehat dia berani ngomong apa adanya, teman-temannya juga baik dengan dia, simpati kepadanya, dia ditarik keluar tidak sempat untuk menguburkan diri di dalam lubang. Karena teman-temannya mendukung dia. Nah kebalikannya kalau memang pada dasarnya dia tidak mempunyai jaringan pertemanan yang kuat seperti itu seolah-olah tidak ada penahannya. Waktu dia jatuh ya dia jatuh sendirian dan tidak ada yang mengangkatnya.

Kalau dia sudah memiliki keberanian untuk menjadi dirinya, dilihat apa adanya, membiarkan orang dekat kepadanya, dan mengerti bagaimana dekat dan mengasihi orang, orang-orang ini akan lebih siap memasuki ikatan nikah. Karena mereka siap untuk membagi hidup. Sudah tentu tidak selalu mulus kadang kala tetap orang-orang atau kita juga harus melewati fase-fase kebingungan. Kadang kala ada juga ketakutan, aduh bagaimana ini ya dalam masa berpacaran, cocok atau tidak, nanti bagaimana. Namun yang saya ingin tekankan adalah, ya kalaupun ada ketakutan dan kebingungan tidak apa-apa kita mesti tetap mempertahankan integritas kita. Kenapa saya menekankan ini sebab ada sebagian kita karena takut tidak mendapat jodoh, kita tahu seharusnya kita dapat jodoh akhirnya kita berpura-pura kita menggunakan topeng, sehingga orang tidak tahu siapa kita. Orang hanya tahunya kita seperti ini, kita mengikuti apa yang orang minta. Kita kehilangan diri sendiri atau ada orang yang berbohong jelas-jelas berbohong karena ingin mendapatkan orang yang dikasihinya. Akhirnya masuk dalam ikatan pernikahan, namun sudah menyimpan masalah, ada orang yg misalkan ini wanita menyerahkan tubuhnya takut kehilangan pasangannya supaya apa pasangannya tidak meninggalkannya. Akhirnya menikah juga, jadi saya mau tekankan berhati-hatilah dalam masa persiapan berkeluarga jangan sampai kita mengkompromikan integritas diri kita. Kita mesti berani muncul apa adanya, ditolak apa tidak tetap berani integritas kita, kita pertaruhkan. Jangan berkompromi mengambil jalan-jalan pintas yang tidak benar.

Perlu diketahui bahwa masing-masing kita itu memang diciptakan secara unik , jadi kita tidak perlu kuatir atau harus menyamai orang lain. Memang pada masa pemuda ini tekanannya cukup besar. Karena ada yang sudah mulai sukses kelihatan arahnya, menanjak kariernya. Nah, misalkan kita melihat diri kita kok masih di bawah nah hati-hati dengan godaan-godaan untuk menutupi diri kita, mengkamuflase diri kita, hati-hati itu. Ada orang yang karena ingin tampil bergaya, mampu, beruang justru memeras orang tuanya memberi dia banyak uang padahal orang tuanya tidak punya uang. Supaya apa, di hadapan pacarnya dia tampil orang yang mampu, mempunyai uang yang cukup. Saya ingin tekankan berdoa, bersandar pada Tuhan, pertahankan integritas diri kita, percayakan hidup kepada Tuhan termasuk dalam hal pasangan hidup ini.

Karakter seorang pemuda

Dua hal yaitu setia dan bertanggung jawab adalah dua karakter yang menjadi tantangan terbesar pemuda, kenapa, sebab pada masa inilah seorang pemuda itu diuji kesetiaannya. Misalkan setiap ada pacarnya dia sudah memberikan komitmen dan pacarnya memang menyayangi dia dan diapun menyayanginya. Hubungan itu baik, tapi sekarang melihat yang lain, terus memikirkan yang lain-lain. Nah dia gonta-ganti pacar, sehingga kesetiaan itu dengan mudah ditanggalkan. Pada masa pemuda inilah kesetiaan menjadi ujian bagi seorang pemuda, bisa atau tidak dia setia. Setia ini juga berkaitan dengan pekerjaannya, dia sudah menekuni satu bidang yang dia memang cocok apakah dia akan terlalu mudah tergiur dengan tawaran-tawaran yang lain. Bisakah dia berpikir dengan jernih dan tenang dan melihat apakah dia memang harus pindah, apakah semua keputusan didasari atas kriteria finansial saja. Apakah tidak bisa kita mendasarinya atas faktor kenyamanan bekerja, pertemanan dengan teman-teman yang baik. Di sinilah kesetiaan diuji. Tadi sudah di singgung selain kesetiaan yang juga akan menjadi ujian bagi pemuda adalah faktor bertanggung jawab. Apakah kita itu dengan mudah melepaskan tanggungjawab, berkelit dari tuntutan, pokoknya yang penting kita selamat, ini masa pemuda diuji. Kalau kita menaruh fondasi berkelit terus-menerus, cuci tangan terus-menerus, kita akan membawa kebiasaan ini untuk masa-masa selanjutnya. Tapi kalau dari masa pemuda kita sudah menetapkan kita mau bertanggung jawab, apa yang kita katakan kita pegang dan apa yang kita janjikan kita coba penuhi. Kita akan membawa fondasi ini masuk ke dalam karier kita nantinya.

Memang dalam rangka ini, menemukan tempat kerja yang tepat untuk kita, kita memerlukan kesempatan untuk bisa berpindah dari satu pekerjaan ke tempat pekerjaan yang lain, tetapi perlu adanya keseimbangan di sini , sudah tentu boleh seseorang itu pindah kerja, boleh meningkatkan kesejahteraan. Namun yang saya ingin tekankan adalah jangan sampai kita mengambil keputusan hanya atas dasar itu. Kita mesti juga mempertimbangkan faktor-faktor lain. Ada kalanya memang ini kesempatan terbuka namun kalau kita ambil misalkan kita harus berpisah dengan pacar kita. Kita tahu bahwa prioritas kita bukan hanya bekerja tapi juga membangun relasi. Kalau kita pindah ke kota yang berbeda kita harus berpisah dari pacar kita, kemungkinan kita akan kehilangan waktu bersama untuk saling mengenal. Kalau kita digelapkan mata kita digelapkan hanya fokus pada pokoknya pekerjaan ini lebih bagus, uang lebih besar. Mulailah kita kehilangan perspektif ya yang namanya kesetiaan dan bertanggung jawab itu mulai kita kurangi. Ini yang mesti kita jaga. Banyak orang memulai masa pemudanya dengan modal setia dan tanggung jawab yang lumayan banyak, dengan berjalannya waktu makin hari makin kurang. Karena semua dikompromikan untuk kepentingan pribadi supaya mendapatkan yang diinginkan. Nah inilah yang harus kita jaga.

Didalam Alkitab ada contoh-contoh, salah satunya yang menarik perhatian saya adalah kehidupan Yusuf. Yusuf adalah seseorang yang mengalami perubahan hidup cukup besar. Memang kalau kita melihat tokoh Yusuf ini keadaan yang memaksa dia, Tuhan menggunakan situasi dan kondisi saat itu untuk menggiring dia menjalani sekian banyak karier, Tuhan membawa Yusuf ke Mesir dengan tujuan pada akhirnya membawa Yusuf untuk menyediakan kebutuhan orang Israel dalam masa kelaparan. Yusuf tidak tahu itu namun kita melihat di sini satu karakter Yusuf setia dan bertanggung jawab. Waktu dia di rumah disuruh oleh ayahnya menemui kakak-kakaknya yg sedang menjaga hewan. Sebetulnya dia bisa langsung pulang setelah menemukan bahwa kakaknya tidak ada di tempat itu. Namun waktu dia tanya-tanya di mana kakaknya berada dia tahu kakaknya berada bermil-mil jauhnya dari tempat dia di situ. Dia mengambil waktu berjalan begitu jauh untuk menemui kakaknya, membawa makanan untuk mereka. Dengan kata lain dari kecil kita melihat setia dan bertanggung jawab. Yusuf memang begitu. Waktu dia dibuang sebagai seorang budak bekerja di rumah Potifar, dia menjadi orang yang dipercaya, kenapa dipercaya, karena dia setia dan bertanggung jawab. Kesetiaannya terbukti waktu istri Potifar menggodanya. Dia berkata: "Semua hal di rumah ini dipercayakan kepada saya oleh suamimu. Hanya satu yang tidak yaitu engkau karena engkau miliknya. Masakan aku berbuat hal yang seperti ini kepada suamimu dan (ini yang ditekankan) masakan aku berdosa atau berbuat jahat kepada Tuhan." Jadi kita melihat Yusuf seorang yang setia. Waktu dia di penjara juga seperti itu dia menjadi tahanan dia tetap menjadi orang yang baik. Temannya mimpi bingung dia mencoba mendoakan, dia mencoba mencari jawaban mimpi itu. Jadi kita melihat di dalam posisi apapun karier apapun yang harus dilewati oleh Yusuf baik itu karier yang baik maupun yang sangat buruk. Dia tetap setia dan bertanggung jawab.

Dalam Kejadian 50:19-20 dikatakan, Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan," Pemuda harus melewati masa yang penuh kebingungan, tantangan, banyak keputusan yang harus diambil pada masa pemuda, termasuk karier dan berkeluarga. Jangan sampai tantangan-tantangan itu melumpuhkan kerohanian kita, jangan sampai tantangan itu akhirnya membuat kita kehilangan kesetiaan dan tanggung jawab. Untuk bisa terus mempertahankannya kita harus hidup takut akan Tuhan. Yusuf selalu takut akan Tuhan dan itulah yang telah menyelamatkan dia melewati perubahan karier dan perubahan hidup yang begitu drastis. Dia tetap setia kepada keluarganya kepada istrinya dan terakhir kepada Tuhan. . /nan1 J